Krisis Kesehatan Mental Anak di Indonesia

Pentingnya Peran Keluarga dan Pola Asuh

Baru – baru ini Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengungkapkan bahwa masalah kesehatan mental pada anak di Indonesia cukup memprihatinkan. Berdasarkan hasil skrining awal dalam program Cek Kesehatan Gratis (CKG), lebih dari 700 ribu anak terdeteksi memiliki gejala gangguan kesehatan mental. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menjelaskan bahwa data tersebut berasal dari skrining terhadap sekitar 7 juta anak, dari target nasional yang mencapai 25 juta anak. Dari hasil pemeriksaan awal tersebut, ditemukan bahwa hampir 10 persen anak menunjukkan tanda-tanda gangguan kesehatan mental.

Secara lebih rinci, sekitar 4,4 persen atau sekitar 338 ribu anak mengalami gejala kecemasan (anxiety disorder). Sementara itu, sekitar 4,8 persen atau sekitar 363 ribu anak menunjukkan gejala depresi (depression disorder) yang tergolong lebih serius. Gangguan kesehatan mental pada anak sebenarnya memiliki berbagai jenis, seperti gangguan kecemasan, depresi, gangguan makan (eating disorder), hingga gangguan perilaku dan perkembangan saraf (neurobehavior disorder). Namun dari hasil skrining yang dilakukan, dua kondisi yang paling banyak ditemukan adalah kecemasan dan depresi.

Temuan ini menunjukkan bahwa masalah kesehatan mental pada anak sebenarnya cukup besar, hanya saja selama ini sering tidak terdeteksi karena keterbatasan program skrining secara luas. Selain itu, pemerintah juga mencatat adanya peningkatan tren remaja yang memiliki pikiran maupun percobaan bunuh diri berdasarkan hasil survei kesehatan pelajar secara global. Data tersebut menunjukkan bahwa persentase remaja yang memiliki pikiran untuk bunuh diri meningkat dari 5,4 persen menjadi 8,5 persen, sementara percobaan bunuh diri meningkat dari 3,9 persen menjadi 10,7 persen.

Menurut Kementerian Kesehatan, faktor utama yang memicu gangguan kesehatan mental pada anak tidak hanya berasal dari kondisi psikologis anak itu sendiri, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh lingkungan keluarga. Konflik dalam keluarga, pola pengasuhan yang kurang sehat, serta hubungan yang tidak harmonis menjadi salah satu faktor risiko terbesar. Selain keluarga, faktor lingkungan juga memiliki pengaruh yang signifikan. Perundungan (bullying) di sekolah serta tekanan akademik menjadi dua faktor yang banyak dilaporkan memengaruhi kondisi psikologis anak dan remaja. Untuk mengatasi permasalahan ini, pemerintah berencana memperluas program skrining kesehatan mental di sekolahagar potensi gangguan kesehatan jiwa pada anak dapat terdeteksi lebih dini. Selain itu, pemerintah juga menyediakan layanan bantuan darurat melalui hotline kesehatan 119 (Sejiwa/Healing 119) bagi anak-anak dan remaja yang membutuhkan dukungan psikologis.

Scroll to Top